Produksi dan teknologi pasca panen bawang merah - VegIMPACT
vegIMPACT

Produksi dan teknologi pasca panen bawang merah

Bawang merah adalah tanaman hortikultura kedua setelah cabai di Indonesia dan merupakan bahan penting dalam makanan traditional. Pemerintah Indonesia bermaksud untuk meningkatkan area bawang merah untuk mencukupi permintaan yang meningkat dan mengurangi import bawang merah. Sebagai tambahan terhadap perluasan lahan, meningkatkan produktivitas (seperti hasil panen per unit lahan) dan mengurangi kehilangan hasil pasca panen adalah dua strategi untuk menigkatakan ketersediaan bawang merah di Indonesia. Oleh karena itu, kegiatan di dalam track ini “ produksi dan teknologi pasca panen bawang merah” akan fokus baik dalam meningkatkan produktivitas banwang merah serta pengurangi kehilangan dalam rantai pasca panen.

 

Sistem produksi bawang merah saat ini adalah dengan menggunakan umbi yang disimpan dari musim tanam sebelumnya (umbi yang dismpan oleh petani). Salah satu masalah dalam sistem ini adalah umbi merupakan sumber utama dari penyakit, yang mana akan ditransfer untuk musim tanam selanjutnya. Akibatnya, hasil panen menjadi jauh lebih rendah daripada hasil potensial.

 

Baru-baru ini, cara sistem alternative untuk produksi bawang merah telah dikembangkan berdasarkan benih botani atau disebut True Shallot Seed (TSS). Keuntungan dari TSS adalah berpotensi mendapatkan hasil yang lebih tinggi dan biaya produksi yang lebih rendah untuk bahan tanam. Kerugian yang utama dari TSS adalah sistem ini membutuhkan periode tanam yang lebih panjang dibandingkan dengan sistem umbi. Musim tanam yang panjang dapat memperberat kemungkinan kehilangan hasil yang disebakan oleh ulat Spodoptera exigua. Metode baru yang sedikit ketergantungan dengan bahan kimia butuh dikembangkan dan lebih didasarkan kepada metode pengendalian hama terpadu (PHT).

 

Pengenalan TSS mungkin dapat menghasilkan spesialisasi petani terhadap sistem rantai benih yang baru, sebagai contoh, untuk memproduksi umbi benih yang memiliki kualitas tinggi (bersertifikat),pindah tanam dan set. Untuk menjamin kualitas dari material tanam yang berbeda ini, teknologi pasca panen yang baru harus di design dan dikembangkan untuk menambah umbi konsumsi. Teknologi pasca panen melibatkan innovasi teknis tapi juga membutuhkan aspek organisasi dan logistik rantai nilai baik untuk umbi konsumsi atau bahan tanam berdasarkan TSS.

Kembali

Terkait dengan ini ""